Waktu aku membuka buku berdebu
Aku lihat nyata skrg dihadapan
Lalu kubertanya,percumakah kutulis buku itu?
Waktuku mengingat aku pernah terisak air mata
Lalu berbagi pada dirinya dan lainnya
Skrg nyata kuhadapi keanehan tak beralasan
Lalu pantaskah aku bertanya, percumakah aku berbagi?
Waktuku menanam benih bersih dr kebaikan
Lalu aku rawat tiap hari walau seringkali aku tergopoh
Karena benih itu seringkali hanyut terbawa hujan dan lepas dari pandangan mata
Sekarang kulihat nyata
Ia tumbuh dan senang dipanen petani lain
Lalu, pantaskah aku bertanya, percumakah aku menanamnya?
Waktuku menjaga kotak rahasiaku
Kuberikan kepada yg berjibaku
Sejenak kulihat nyata
Kotak itu hampir hilang ditumpukkan barang bekas
Rapuh dan keropos
Lalu aku bertanya percumakah kuberikan itu?
Saat aku kuras peluhku
Mencari air untuk sahabatku
Padahal aku butuh itu, karena tanah ini sisa batu dan pasir
Kemudian setelah hilang dahaga, ia pergi, aku sendiri
Lalu skrg aku bertanya, percumakah aku berikan cawan itu padanya?
Sejenak pertanyaan-pertanyaan itu aku pikir lebih dalam
Aku duduk terdiam tnp batas waktu
Aku tertegun sempat menyerah dari ketiadaan
Letih bergulat dengan keramn kuk itu
Berlari berlari membawanya jauh dari
Aku hanya tahu
Aku berkeringat sendirian
Aku hampir mati sendirian
Aku gila sendirian
Akupun begitu, akupun begitu
Tidak hanya padamu atau padaMU
Mungkin masih baik adanya aku msh berjalan
Mampu berlari membawa kuk seberat itu
Setidaknya aku bisa mencerna
Aku salah, aku hina, aku punya kitab dosa lusinan banyaknya
Tapi aku tidak pernah dihadapkan olehNYA
Dengan pertanyaan,
Percumnakah aku selalu menyertaimu anakKu?
No comments:
Post a Comment