Pages

Sunday, October 17, 2010

Prologku Untuk Ayah

Senang rasanya bisa melihatmu lagi
Menanti kedatangan mobilmu
Duduk dibalik kaca hitam dengan penuh kesabaran
Padahal aku tahu
Kau baru saja menerjang lautan besi berjalan
Dengan udara yang kurang berteman
Kau tersenyum
Aku lebih-lebih
Walau aktingku biasa saja

Kita menuju pemahaman rumah
Diam, jarang bicara
Aku mau bicara banyak
Tapi tersangkut baut
Namun kunikmati suasana itu
Hening, namun menyejukkan

Aku putar otak
Kapan kuberikan hasil jeripayahku itu
Aku mulai berkeringat
Otot meneghang
Padahal kita selalu berjalan di lantai yg sama

Kita tiba
Kulihat disana wanita duduk di luar
Entah mengapa ku tak terlalu perduli
Aku mau
Aku ingin bergegas
Merobek resleting tasku
Mengambil kotak hijau itu
Menyiapkan baju rumah hingga tidak kena marah yg punya 
Aku semakin berkeringat
Tak perduli lagi posisiku mengganti kain penutup itu
Tanpa sungkan kuajak ayah ke kamar tidurnya
Lalu kuberikan dengan helaan nafas kelegaan
Dia tersenyumn dan berkata, "makasi sayang.."
Ingin aku melonjak kegirangan, tp kujaga sikap
Inginku menerjang tubuhnya dengan sebuah pelukan
Entah mengapa kujadi patung
Ah
Sial!
Tapi aku lihat sendiri senyum itu
Tak henti dia memegang benda itu sambil tersenyum
Keletihannya seperti tersapu bersih
Maaf ayah, aku cuma bisa kasih itu
Dia berkatan, "tidak apa-apa"
Kulihat dia memegang terus berhari-hari sampai waktuku harus kembali
Berusaha dia cari alat untuk membuat benda itu pas dipakainya
Tapi tak bisa
Tidak mau memilih sembarang orang menangani
Ia mau benda itu ditangani dengan orang terbaik
Padahal tidak sampai seberharga itu
Kulihat rasa tidak sabarnya baru kali ini
Seperti anak kecil baru dapat mainan
Entah mengapa ia selalu membahas benda itu bersamaku
Mengatakan dgn bangga kepada ibuku yg cemburu
Tidak perduli
Yg penting buatku dia suka
Itu cukup

Yah, terimakasih untuk senyuman itu
Aku pulang hanya untuk alasan itu
Terimakasih setia mengantarku kembali pada kewajibanku
Terimakasih untuk setiap kata teduh yang memahami keberadaanku
Terimakasih untuk setiap usaha tidak menolak permintaanku
Terimakasih sudah berusaha untuk kelangsungan hidupku
Terimakasih selalu mencoba memandang dari sisiku
Terimakasih untuk melayaniku
Terimakasih untuk pulang di sela-sela jam kantor hanya untuk memastikan aku sudah minum obat
Terimakasi untuk bunga pertamaku
Terimakasih untuk pengetahuanmu tentangku
Terimakasih penjadi pengantar setia
Terimakasih telah berjalan bersamaku
Terimakasih untuk rasa aman itu
Terimakasih untuk keberadaanmu
Terimakasih telah menjadi kebangganku
Terimakasih untuk tidak meninggalkanku lagi
Terimakasih untuk rasa sayang yang dalam
Terimakasih telah memarahiku dan mengingatkanku
Terimakasih telah mengajarkanku kesabaran dan mengerti orang lain
Terimakasih untuk setiap kabar baikmu
Terimakasih untuk menjadi ayahku
Terimakasih Tuhan atas ayahku..

No comments: