Pages

Wednesday, August 31, 2011

Bukan Satu, tapi Bersatu

Judul ini dikutip dari sebuah buku seorang Pandji Pragiwaksono yang berkisah tentang pemikiran dan ideologi murni seorang anak muda yang berjiwa nasional lebih tinggi di kalangan pemuda Indonesia sebelumnya..
Maaf Mas Pandji, saya pinjam istilahnya ya..

Terlahir dari keluarga yang ternyata kedua kakek saya dapat terhitung sebagai pahlawan negara. Kakek saya dari pihak ibu adalah seorang tentara dan sudah meninggal dan dikubur di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Timur.
Kakek saya dari pihak ayah adalah seorang dokter sekaligus salah satu jendral di angkatan udara Indonesia pada zamannya. Mereka berjuang, mereka membela negara dengan jalan mereka masing-masing.

Dari kecil saya tidak terlalu menyadari mengapa saya memiliki rasa nasionalisme, kenegaraan atau apapun itu sebutannya. Darimana datangnya itu? Sementara lingkungan saya dipenuhi oleh anak-anak dan pemuda yang pada zamannya malu mengatakan bahwa mereka ada seorang INDONESIA.
Buat mereka, Indonesia itu.. KAMPUNGAN.
Buat mereka, merah putih itu jauh lebih jelek daripada bendera Itali, Amerika dan negara berkelas lainnya.
Menggunakan produk Indonesia adalah salah satu kenistaan terberat, dan saya akan ditertawakan jika saya mengataka bahwa saya bangga menjadi bagian dari Indonesia. Ah, itu terlalu klise katanya.

Tapi itulah saya, dengan segala idealisme yang saya miliki. Entah mengapa saya selalu antusias bila berbincang mengenai sejarah Indonesia, kostum Indonesia, bendera merah putih, dan bagi saya lambang garuda itu kerenn.. Saya selalu bangga bila memiliki baju dengan lambang itu. Dulu bahkan saya pernah terpikir untuk membeli segala pernak pernik ABRI dan bajunya karena hanya itu atribut yang mengandung tema tentang Indonesia. Dulu sih belum ada yang namanya brand bernama "Damn.. I love Indonesia" dan untuk mencari sebuah kaos timnas Indonesia pun sangat sulit.
Entah saya yang katro ato bagaimana, tapi ya jarang..
Saya sempat ingin membeli jaket parasit Indonesia yang banyak dikatakan orang sebagai jaket "tukang ojek".
Saya terheran, mengapa tidak ada yang bangga menjadi bagian dari Indonesia sampai jaket terhormat seperti itu disetarakan dengan tukang ojek?
Saya tidak bilang bahwa tukang ojek itu hina. Bukan. Bahkan lebih baik bekerja sebagai tukang ojek karena cara kita mendapatkan sepiring nasi masih termasuk halal. Tapi ungkapan tersebut seakan merendahkan strata negara ini.

Kalian boleh tidak bangga, tapi kalian tinggal disini. Kalian banyak mengeluh, emang kalian udah bisa kasih apa buat negara?
Menyanyikan lagu daerah dibilang kampungan, memangnya kalian berasal darimana? Jakarta yang sekarang lebih dikenal sebagai kota metropolitan pun awalnya berupa kampung. Namun karena pusat pemerintahan di pindahkan kesini, ya mau tidak mau jadi lebih baik daripada daerah lain.
Liburan di sekitar Indonesia aja dibilang ngga gaul. Okey, kalian bisa pastikan ngga kalau tujuan wisata yang kita miliki lebih buruk dari luar negeri? Apa kalian yang tidak cukup mengenal negara sendiri?

Berbicara dengan bahasa daerah disebut norak. Kalian tahu tidak seberapa banyak turis internasional bersusah payah belajar bahasa daerah kita dengan lafal mereka yang belepotan? Dan sampai saat ini saya masih bingung ada orang Siantar yang tidak fasih berbahasa Batak? Paling tidak aga terbiasalah.. Pertanyaan saya, selama ini kalian ngapain aja disana?

Alat musik tradisional dibilang ketinggalan zaman. See, banyak orang bule yang kita bilang paling gaul itu belajar main GAMELAN dan ANGKLUNG. Lalu?
Belajar sejarah Indonesia membosankan. Kebanyakan orang Indonesia benci belajar tentang sejarah. Wajar saja kita banyak mengulang kesalahan yang sama yang pernah dilakukan oleh pendahulu kita sebelumnya.

Yaah, itulah warga Indonesia.
Kita tunjuk dan salahkan pemerintah, berbagai macam tudingan kita suguhkan. Memang kita sudah buat apa untuk membantu mereka? Daerah sendiri ga laku sama wisatawan. Ada upaya untuk mempromosikannya?
Saya memang belum pernah mengelilingi Indonesia secara utuh. Tapi cita-cita saya, sebelum saya mengunjungi dunia luar, saya usahakan kalau saya harus sudah mengelilingi seluruh kawasan Indonesia secara utuh. Jadi saya bisa membagikan kisah tentang Indonesia secara utuh juga. Bagaimanapun itu caranya.

Saya dan idealisme klasik saya. Tapi inilah saya.
Bercita-cita untuk bisa memenangkan Indonesia kembali, saya tahu negeri ini punya kualitas tingkat tinggi.

Sampai sekarang hal yang belum kesampaian adalah, memajang bendera Indonesia di kamar tidur saya. Hahaha. Saya lupa bendera yang pernah saya beli diletakkan dimana.
Yang jelas langkahmu dengan cara apapun harus diawali dengan anggapan dasar, Indonesia itu pada dasarnya emang beraneka ragam. Bukan untuk disatukan, tapi bagaimana caranya kita bisa bersatu.
Pemuda Indonesia itu tidak akan memiliki kualitas kacangan jikalau mereka memiliki niat dan semangat yang besar.
Saya berusaha melakukan apapun untuk mencapai tugas kenegaraan ini, dengan cara saya, dengan jalan hidup dan panggilan saya.
Jangan sampai kita menyalahkan negara lain karena merenggut kebudayaan kita, padahal sebenarnya kita yang tidak bisa menjaganya dengan baik.

Bung Karno saja pernah bilang, bahwa negara kita itu adalah negara yang cantik.
Lalu, tunggu apalagi?

2 comments:

Anonymous said...

ahirnya tau WA >>wilhelmina augustine

btw

jtodaqtodao >> ini artinya apa?

thx

Je Matullessija said...

artinya JQO
nama panggilan alias nama beken gue
Hahahah
toda itu artinya to the..
Eh mau tahu donk, anonymous ini siapa ya?
Misterius banget. Haha