Pages

Friday, December 30, 2011

Bandoeng

Bandung..

B A N D U N G

Yang katanya adalah kota bunga. Saya sendiri baru menyadari, darimana bisa ada sebutan itu muncul. Karena saya tidak melihat ada cukup banyak bunga disana. Tapi kalau yang dimaksud adalah bunga desa, ya emang si. Awewe ti Bandung meuni gareulis pisan..


Bagi sebagian banyak orang Bandung itu bisa bikin kita kangen banget. Kurang tahu juga alasannya. Mungkin karena di Bandung banyak orang yang mereka kasihi.


Bandung tempat yang nikmat untuk bermalas-malasan.

Bagaimana tidak, disini gudangnya kuliner dan suasanyanya tidak pas untuk kita bekerja. Bawaanya pengen liburan kalau disini. Ini juga yang mungkin membuat rasa persaingan tidak begitu kental disini. Bagi yang suka belanja, Bandung adalah surga. Tidak ada yang tidak dijual di Bandung. Termasuk harga diri juga ada disini.


Buat saya, Bandung itu kota yang loveable sekaligus menyedihkan buat saya.

Saya bisa tiba-tiba tidak ingin meninggalkan Bandung namun dengan selang waktu yang tidak lama saya bisa ingin cepat-cepat meninggalkan kota ini.

Saya banyak menjadi diri saya sendiri di kota ini. Saya banyak mengeksplorasi diri saya di kota ini. Bandung punya segudang komunitas yang cukup friendly untuk bisa ikut gabung. Saya sendiri bingung jika saya tidak lagi di kota ini, harus lari ke komunitas mana saya?

Tapi di satu sisi saya seringkali membuat saya ingin cepat meninggalkannya. Bandung adalah kota dengan segudang sumber masalah buat saya. Bisa juga kalau saya lagi homesick berat, kangen berat dengan teman-teman saya di Jakarta.


Bandung adalah kota pembelajaran buat saya.

Tujuan utama saya di Bandung memang untuk belajar. Saya mengemban status saya sebagai mahasiswa di Bandung untuk beberapa tahun.

Namun, saya lebih merasakan banyak pelajaran kehidupan yang saya dapat di kota ini.

Saya belajar mandiri.

Untuk ukuran anak tunggal yang tidak pernah jauh dari orang tua, sulit buat saya untuk hidup benar-benar mandiri. Ditambah keluarga yang protektif membuat saya sulit menjadi diri sendiri bersama dengan keputusan yang saya ambil. Tapi di Bandung ini, semua keputusan beserta resikonya saya ambil dan lebok sendiri. Saya belajar mulaidari mengatur waktu, mengatur keuangan termasuk mengatur pergaulan saya sendiri. Apapun resikonya, saya yang harus tanggung itu sendiri.

Saya belajar untuk menikmati hidup.

Ya, seperti yang sudah saya tuliz sebelumnya, apa yang bisa diharapkan dari anak hasil protekisasi? Saya jamin anak seperti ini tidak banyak mengalami pengalaman di luar rumah. Disini saya bisa melakukan apa yang saya mau. Semua. Semuanyaa. Termasuk mencoba untuk nakal. Tapi ya masih sampai batas kewajaran ya. Saya melakukan hal yg selama ini sulit untuk saya lakukan ketika ada dirumah. Pulang malam, ngejagain temen saya sakit (ini pekerjaan yang paling ingin saya lakukan dari dulu), memperhatikan orang lain sebebas dengan cara sendiri, mengunjungi tempat dan makan di sana sini, mengendarai motor di jalan raya (mungkin biasa untuk anda tapi tidak untuk saya), pelayanan maksimal, ikut kepanitiaan dan aktif, perform sana sini, nonton konser tanpa perlu ijin, dan semua hal yang dulu ga bisa saya lakukan.

Saya belajar mengenal Tuhan lebih dalam.

Ada terus di rumah bukan berarti kerohanian saya bagus ya. Justru di Bandung saya banyak diubahkan. Bersyukur saya bertemu juga dengan komunitas yang bisa membangun saya ke arah yang lebih baik.


Di Bandung saya belajar persahabatan yang sesungguhnya.

Iya. Bandung itu yang mengenalkan saya dengan kamu, kamu, kamu, dan kamu. Bagi saya kamu semua adalah pembelajaran. Tanpa terkecuali. Saya belajar bagaimana setia kawan, bagaimana berbagi lebih dari yang pernah saya lakukan, belajar mempraktikan hukum kasih dan menyayangi tanpa pamrih. Saya belajar lebih memahami dan mengerti. Dan sekarang saya sedang belajar sedekat apapun persahahatan, adakalanya mereka butuh menikmati hidup mereka, sendiri. Tanpa orang lain. Mengerti prinsip-prinsip yang berbeda. Memahami bahwa persahabatan bukan masalah waktu dan jarak, tapi hati. Persahabatan itu mendukung, bukan dijorokin. Persahabatan itu merangkul bukan membuang. Dan setiap manusianya punya kebusukan masing-masing yang menjadi halangan sekaligus tantangan buat kita lebih memahami.

Yang jelas saya lebih menghargai persahabatan disini. Bagaimana persahabaan terus berjalan seiring dengan datangnya cinta. Bandung adalah tempat yang bersahabat buat saya.


Apapun itu yang jelas bukan Bandung tempat saya untuk berlama-lama tinggal. Tapi, pasti saya akan sangat merindukan kota ini dan ingin kembali dan kembali lagi.


Published with Blogger-droid v2.0.2

No comments: