Ketika saya mengetik ini...
Saya kembali lagi mengingat kebaikan Ayah yang sungguh melampaui akal sebagai seorang manusia terbatas.
Jika anak itik saja tidak akan ditinggalkan induknya berjalan sendiri di perjalanan, begitu pula Ayah bersikap.
Bahkan melebihi itu.
Itulah yang membuat saya pribadi tidak punya cukup keberanian untuk melakukan hitung-hitungan.
Sudah pasti hutang saya melampaui harga kehidupan saya.
Saya kembali belajar, saat kita mencoba taat pada hal kecil, Ayah tidak pernah melupakan janji yang Dia buat. PENYERTAAN YANG SEMPURNA.
Bagaimana saya bisa melupakan ini sedetik pun ketika saya digoda untuk enggan memberikan yang menjadi hakNya.
Saya bisa katakan, mungkin saya tidak bisa bertahan hidup dengan penghasilan saya sendiri sampai detik ini kalau bukan tangan Ayah sendiri yang seakan mengalirkan berkat tanpa saya pikirkan.
Saya bisa menikmati hiburan, makan enak tanpa keluar uang sedikit pun.
Bahkan ketika saya ingin mampir ke tempat makan hendak mencoba menu disana, saya berpikir dua kali karena keuangan yang cukup menipis. Namun saya beranikan diri untuk kesana bersama teman saya karena saya pikir, uang dicari untuk dinikmati. Habis ya bisa cari lagi. Ketika saya berjalan, saya bertemu tiga orang atasan saya yang juga hendak makan di tempat yang sama. Mereka adalah orang-orang yang selalu membuat saya dapat menikmati kesenangan dengan gratis. Dan sekali lagi mereka juga yang membuat saya bisa mencoba makanan di tempat itu dengan free.
Mereka orang yang baru saya kenal. Namun begitu baik. Kalau kalian tahu, Ayah bisa memakai siapapun untuk memelihara kita. Perpanjangan Ayah disini tidak terbatas.
Saya tiada berhenti mengingat hal itu. Saya bahagia. Saya sadar saya tidak menyembah Tuhan yang salah. Dia memang ada. Memang nyata. Begitu pula dengan segala berkatnya.
Terimakasih. Ayah.
No comments:
Post a Comment