Pages

Monday, April 7, 2014

23:13

Jika memang ingatan saya tidak salah menerka
sekiranya setiap hari yang disebut dengan rabu, jumat dan sabtu..
Saya tidak bisa gambarkan rasanya dengan tepat.
Yang saya ingat, 24 jam saya tidak pernah terasa melelahkan.
Bangunnya saya di pagi hari, mau saja saya ingat kembali setiap hari.
Waktu tidur yang terlewat, rasanya mau saja digantikan hingga hari itu tetaplah 24 jam tanpa terlewat dengan mata terkatup lelah.

Berbicara tentang waktu, bukan maksudnya mengeluh.
Ya Ayah, maafkan jika akhirnya ini menjadi bentuk keluhan saya keseratus ribu kalinya.
Bukan juga perkara syukur yang tidak ingin saya genggam.
Saya hanya mencoba ingin jujur pada kehidupan.

Begitu sederhananya saya waktu itu.
Dengan panggilan yang saya rasa juga cukup sederhana.
Entah dengan senyawa apa Engkau membentuk isi otak dan rasa yang tertanam dalam raga yang dibiarkan terbentuk
dengan sendiri tanpa teman bicara dari lama.
Saya kurang paham jika mungkin dunia menilai itu terlalu apa adanya.
Saya juga tidak bilang program itu terlalu mulia.
Satu hal, saya hanya ingin melakukannya.

Sesederhana saya terpisah dengan ramai dan pikuknya ibukota.
Sesederhana saya menyatu dengan rumput yang entah darimana dia tumbuh tanpa pupuk manusia
Sesederhana saya hidup dengan tawa dan nyata hari ini saja.
Sesederhana saya punya arti karena saya mampu membantu yang semestinya.
Sesederhana saya berdawai dengan nada dari mulut mereka.
Sesederhana saya membuat mereka dapat membuka mata sebelah orang-orang yang sempat tertutup rapat.
Sesederhana saya melihat manusia itu berkembang lebih baik dengan apa yang saya pernah suguhkan.
Sesederhana itu saja.

Setiap kali ada cuplikan tentang bagaimana mereka menapaki langkah yang menurut saya harusnya punya saya,
rindu itu tidak pernah hilang.
Seperti tetap anteng saja berdiam seakan tidak ada yang mengusik dan mengusir.

Saya tahu, perguliran ini masih panjang.
Ini baru setengah jalan, dan saya hampir menyerah pada kefanaan.
Tapi ini terlalu imitasi.

Kekanakan saya terpaksa harus diberhentikan lebih cepat dari yang seharusnya.
Dan cita itu terpaksa harus dipendam untuk, saya kurang tahu untuk siapa.
Yang saya tahu, mungkin agar peluh yang mereka keluarkan tidak terasa sia-sia, paling tidak untuk sekarang.

Yasudah.
Itu kata ampuh untuk kesesakan yang tidak lagi mungkin bisa terwakili dengan ucap kata dan hujan mata.

Ini panjang lebar, mau kemana?
Yasudah.

No comments: