Pages

Monday, April 7, 2014

Tanjung Pinang 10:00

Pagi saya sekarang seperti diisi dengan tumpukan tandok dikepala.

Ringan langkah saya untuk bergegas mandi, seakan mati kutu walau sudah diperingati berkali-kali oleh alarm. Bunyinya cukup mengganggu. Buat orang lain, buat saya dia membantu.

Ini cerita pagiku setiap bangun dari dipan yang sudah membesar ukurannya sekarang. Tidak ada beda sensasinya, walaupun ukurannya punya hitungan lain.

Saya tahu persis, ini tuntutan. Ini pertanggungan dari kesempatan yang sudah saya dapat untuk terbebas dari pikiran terbeban akan masa depan. 
Saya rasa dulu bisa saya tangguhkan. Saya tidak tahu rasanya sesulit ini.

Saya tahu menua itu bukan pilihan, menua itu harga pasti yang sudah diikat mati. Berjalan itu harus maju, bukan mundur lalu kembali merangkak lagi.
Saya tahu persis.
Dengan pribadi yang serba takut-takut ini itu, saya pikir terlalu egois menyalahkan apa yang saya lakukan sekarang.
Sebenarnya saya bisa memilih, asal berani lebih keras pada pilihan. Namun ruang untuk itu tak cukup besar dibangun sedari dulu untuk sekarang bisa berbuat banyak atas kebebasan yang lenyap.

Saya hanya sedang cari aman.
Cari aman atas cara mainstream manusia sekarang mencari pelipur kebutuhan.
Saya tak perlengkapi raga dengan kelegaan salam yang telah diterjemahkan untuk setiap bahasa.

Tidak tahu pasti juga, ini kelokan yang akan kembali melurus atau tidak.
Saya diminta untuk tetap mengikuti tuntunan. Dosanya, saya suka merasa, "tuntunan yang mana ya?"
Lalu saya pukul bibir saya, dan menggelengkan kepala.

Pikiran saya juga kadang terlampau jauh terbang ke tempat yang mungkin saya tidak pernah kunjungi nantinya.

Menjadikan tolak ukur atas apa yang ada sekarang dengan tuntutan semata wayang yang harus saya jaga sendirian.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, menua itu pasti. Pasti terjadi, tidak untuk saya hanya, tapi juga cinta saya yang tertinggal pada peraduan yang entah mungkin tidak akan bergerak kemana-mana. Karena cuma itu tempat lelah saya berpijak dengan aman tanpa diketahui polisi.
Merasakan beban sumber hidupku selain si Empunya cakrawala itu, ya karena hanya saya yang ada.

Namun..
Saya seperti kehilangan keluhuran pekerti.

Mohon ampun bagi kawan yang merasa saya terlalu banyak bicara. Fokus pada nyaringnya belati sendiri.

Tapi memang hanya kalian toples dan baskom yang saya bisa pinjam dari dunia.
Saya termasuk yang tidak terlalu percaya pada luhurnya kekuatan pohon keturunan.
Ya saya tahu, saya tidak seharusnya untuk seutuhnya menaruh harap harap cemas pada sesuatu yang sengaja dibuat tidak sempurna.


Eratnya tali sepatu saya, menjadikan kaki saya lebih sakit untuk berlari semaunya dari sebelumnya.

Oke.. Oke..
Saya tahu.
Saya harus berhenti sekarang.
Ini waktunya berusaha lebih keras mengatur waktu.

Saya pun sebenarnya enggan mengatur apa yang harusnya saya selesaikan di ruang petak itu.


No comments: