Aku mengusaha santun dalam berkata.
Kadang dihirau, kadang dicela.
Jika nasibku kurang baik, aku dilewati tanpa tanda.
Berjibaku dengan rasa sendiri. Kusut.
Lemah linu. Urat tegang.
Sulit melampiaskan. Sedarinya begitu. Tanpa pura-pura.
Jikalah memang agregat menguasaiku berbagi, hendakkah kau menjamu memahami?
Atau aku harus menina-bobokan kembali mataku yang lelah diterjang tsunami?
Payahnya aku.
Mulai tak mampu memilah.
Mulai lekas memilih.
Lupa kalau ini terlalu dini untuk disajikan kepada yang belum teruji.
No comments:
Post a Comment