Jika masi ada waktu menyentuh udara, menyapa gagahnya mentari.
Sedialah waktu menyapa penjaga batin.
Jika masih ada waktu memutar pena, menerka masa depan.
Sedialah waktu menaruh bincang dengan sang penjaga lemah.
Jika masih ada waktu pergi, berputar mencari jati diri,
Sedialah waktu pulang, kembali. Mereka rindu. Letih menerka kabarmu.
Jika masih ada waktu duduk bersama dengan kawan penyebar jala,
Sedialah waktu duduk disebelah mereka, mendengar celoteh hari tua. Menghabiskan satu atau dua cangkir teh di teras rumah.
Karena mereka selalu punya waktu memperkenalkan baiknya udara, hangatnya surya.
Mereka yang memberi tahu bagaimana menyentuh impian dan jemari, meraih apa yang hendak kau sentuh.
Mereka pula yang menguat kita berjalan sekaligus berlari agar kita tahu bagaimana harus beradaptasi dengan dunia yg belum dikenal dahulu.
Tanpa pergi. Hanya berjarak sedikit di sekitar. Menunggu panggilan tugasnya untuk menyeka luka sesaat rengsa selira dan asa.
Mereka pula dongan terbaik. Percaya itu. Kau tidak perlu lekas curiga saat hendak menaruh percaya.
Kembali jika sudah berjalan terlalu jauh
Terlalu letih
Dan jika waktu masi terbuka
Untuk menjaga kembali mereka
Sebelum waktu menutup kesempatan berbakti.
No comments:
Post a Comment