Penyalahgunaan
narkoba baik di Indonesia maupun internasional sudah terjadi dalam waktu yang
lama. Narkoba hadir sebagai “sarana rekreasi” bagi para penggunanya yang
berasal dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Para awalnya, pengguna umumnya
tidak benar-benar mengetahui dampak dari penyalahgunaan obat tersebut. Mereka hanya
menikmati efek obat yang dikonsumsinya dan tanpa disadari membuat mereka terus menggunakannya
secara berulang hingga menjadi kecanduan.
Narkoba
merupakan permasalahan yang kompleks dan untuk memahaminya dengan baik dibutuhkan
cara pandang yang lebih luas dan menyeluruh. Perlu pendekatan multidimensional
untuk menjelaskan permasalahan narkoba secara komprehensif. Misalnya, tidak ada
faktor tunggal yang dapat menentukan mengapa seseorang menjadi pecandu (Mooney,
Dold, & Eisenberg, 2014). Biasanya para pecandu mengaku bahwa alasannya
untuk mencoba menggunakan narkoba adalah ikut-ikutan teman. Namun tidak serta
merta kita dapat menentukan bahwa faktor lingkungan yang menjadi penyebab utama.
Pada kenyataannya, ada pula orang-orang yang tetap tidak menggunakan narkoba
walaupun orang-orang di sekitarnya mayoritas adalah pecandu narkoba. Hal tersebut
memberikan pemahaman yang mendalam bahwa kemungkinan terdapat hal-hal lain yang
dapat menjelaskan mengapa individu memiliki kecenderungan untuk menggunakan
narkoba dan menjadi ‘ketagihan’.
Saya
berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan beberapa pecandu narkoba terkait
pengalaman mereka saat masih mengkonsumsi. Banyak alasan mengapa mereka
memutuskan untuk mencoba narkoba sampai pada akhirnya menjadi kecanduan, antara
lain ikut-ikutan teman, stress karena patah hati, ingin mencari pengakuan di
dunia luar, dan masih banyak alasan lainnya. Kesimpulannya, mereka menggunakan
narkoba bukan semata-mata karena terpengaruh lingkungan, namun pada dasarnya
kecenderungan perilaku tersebut dilatarbelakangi oleh adanya berbagai masalah
di kehidupan pribadi para pecandu yang membuat mereka memilih narkoba sebagai ‘jalan
keluar’ untuk menyelesaikan masalahnya. Padahal, para pecandu, khususnya yang
saya wawancara, sangat menyadari bahwa narkoba hanya dapat memberikan efek
sementara yang membuat seakan-akan masalah mereka hilang dari pikiran akan
tetapi pada kenyataannya masalah tersebut tetaplah ada dan tidak terselesaikan
dengan tuntas. Dengan kata lain, para pecandu narkoba memilih penyelesaian
masalah yang keliru karena mereka tidak mengetahui bagaimana cara merespon dan mengatasi masalah
utama dalam kehidupannya dan tanpa disadari mereka malah menambah masalah baru dengan
menjadikan narkoba sebagai ‘pelarian’. Hal ini sejalan dengan hasil sebuah
penelitian yang mengatakan bahwa kurangnya kemampuan seseorang untuk melakukan problem solving dapat meningkatkan
kecederungan seseorang untuk menggunakan narkoba (Herzog, 1990).
Selain
itu, faktor psikologis yang ternyata mempengaruhi kecenderungan individu
menggunakan narkoba adalah penilaian individu terhadap harga dirinya. Individu
yang memiliki penilaian rendah terhadap harga dirinya memiliki kecenderungan
yang lebih besar untuk menggunakan narkoba (Khajehdaluee, dkk., 2013). Para pecandu
narkoba yang sempat saya wawancara mengatakan bahwa kebanyakan dari mereka mulai
menggunakan narkoba mulai dari umur 18 tahun sampai dengan 20 tahun ke atas.
Pada masa itu individu sedang dalam tahap mencari jati diri. Para pecandu
mengakui bahwa ketidaksabilan emosi, keinginan untuk tampil hebat dan perasaan
ingin diakui menjadi alasan mengapa mereka menggunakan narkoba. Tanpa disadari
efek menggunakan narkoba justru sebaliknya, semakin membuat mereka merasa
rendah diri terutama dalam melakukan relasi sosial karena pecandu pada umumnya
cenderung menarik diri dari lingkungan sosial.
Melalui pemaparan di
atas terlihat bahwa banyak faktor yang menjadi penyebab individu memiliki
kecenderungan untuk menggunakan narkoba. Begitu pula sebaliknya, banyak faktor
yang membuat individu pada akhirnya memutuskan untuk berhenti menggunakan
narkoba dan menghilangkan adiksinya. Saya belajar dari pengalaman para pecandu
bahwa hal yang terpenting ketika pecandu ingin menghentikan adiksinya adalah memiliki
keinginan yang kuat dan tulus untuk lepas dari narkoba. Namun, untuk melepaskan
diri dari narkoba para pecandu perlu menjalani proses yang panjang. Ketika individu mengalami kecanduan
terhadap narkoba, hal tersebut juga memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupannya. Dalam arti kata, mengubah sebuah kebiasaan yang sudah berlangsung terlalu lama dan menimbulkan adiksi pastinya tidak semudah membalik telapak tangan, bukan?
Penggunaan narkoba yang
berlebihan tentunya berdampak negatif pada kondisi biologis individu itu
sendiri karena ketika individu sudah mulai mengalami adiksi, maka ada perubahan
pada sistem saraf pusat. Selain itu, kecanduan narkoba membawa perubahan yang
cukup besar bagi kondisi psikologis individu, seperti emosi yang tidak stabil,
impulsif dan sebagainya. Perubahan-perubahan ini tentunya memberikan dampak
yang cukup besar terhadap lingkungan para pecandu. Tidak jarang para pecandu
mendapatkan stigma negatif sehingga pada akhirnya kehilangan orang-orang di
sekitarnya dan pada akhirnya mereka merasa terkucilkan. Oleh karena itu, proses recovery perlu dipahami sebagai proses
yang panjang, membutuhkan usaha yang besar dan dukungan dari lingkungan sekitar
sehingga dibutuhkan kesabaran dan kerja keras untuk melakukannya. Sayangnya,
tidak semua pecandu yang ingin lepas dari narkoba tahu bagaimana cara
melakukannya. Oleh karenanya, penting bagi pecandu untuk mencari pertolongan
dari pihak luar dan bersedia untuk terbuka menceritakan kepada keluarga atau
orang terdekat sebagai salah satu upaya seeking
for help. Selain itu, mencari pertolongan kepada tenaga professional atau
komunitas yang berhubungan erat dengan rehabilitasi juga sangat membantu. Intinya,
pecandu harus terus berupaya untuk terkoneksi dengan lingkungan untuk membantu
proses recovery.
Semua ketergantungan
memiliki efek psikologis pada individu, baik pengguna maupun orang-orang
sekitarnya. Dengan segala kerugian yang dihasilkan oleh para pecandu terhadap
lingkungannya, mungkin tidaklah mudah untuk menerima kembali kehadiran pecandu
dan mempercayai keinginan mereka untuk kembali ‘hidup normal’. Akan tetapi, penerimaan
dari lingkungan akan sangat membantu pecandu untuk tetap berada dalam proses recovery dan tidak kembali untuk
mengkonsumsi narkoba. Sulitnya
menjalani proses recovery harus
dipahami dengan baik oleh lingkungan sekitar para pecandu. Oleh karenanya,
kemajuan sekecil apapun sangat berarti.
Melalui pengalaman para
pecandu, saya belajar tentang pentingnya memiliki keyakinan diri dan pondasi
yang kuat dalam hidup. Selain itu, lari dari masalah bukanlah pilihan yang
tepat. Pada akhirnya, kita tetap harus berdamai dengan diri sendiri dan
membiarkan diri untuk diproses oleh kehidupan sehingga dapat bertransformasi
menjadi individu yang lebih baik.
No comments:
Post a Comment