Mati satu satu
Tak tumbuh seribu
Sepertinya pepatah keliru
Nyatanya mati satu satu
Tak muncul lagi pengganti baru
Dari dulu tetap Satu
Dan hanya Satu
Seribu kali jantung terhujam
Tersengat panas terpapar debu
Tidak tahu masih adakah sisa untuk teguh
Dan menerima seperti batu
Hanya aku
Dan aku
Tanpa bala bantu
Aku ini terlalu kaku
Berpikir sana merenung situ
Mencoba timbang sini situ
Aku lelah pada batasan
Kau mau jadi elang atau kupu-kupu?
Tapi katanya restu itu perlu
Lalu, apa aku akan selalu keliru?
Berjalan tanpa setuju?
Lalu hidupku punya aku atau kamu?
No comments:
Post a Comment