Pages

Saturday, January 7, 2012

Matahari

Mari kita berbicara tentang MATAHARI.
Ya, topik yang terpikir secara tiba-tiba oleh saya.
Apakah setiap kamu selalu menyapa matahari dengan baik?
Apa kamu pernah memandang dia walaupun dia besar dan ada di atas kepala kita?
Pernah kita perhatikan bagaimana ia berpijar dan menghilang secara tiba-tiba saat petang?

Bahkan banyak di antara kita yang seringkali memandangnya saja tidak mau.
Menjauhi diri untuk menikmatinya setiap hari.
Mengeluh saat panasnya terlalu terasa. Padahal itu bukan salah dia. Dia berpijar dengan suhu yang sama sebenarnya. Tapi apa pernah terpikir bahwa itu adalah kesalahan kita?
Kita yang membuat ozon terkikis hari demi hari.
Tapi yang kita salahkan? Matahari.
Dia sering dihina. Banyak orang yang suka hujan, dan membenci matahari.
Banyak omelan dan caci maki yang matahari terima tiap harinya.
Tapi jika matahari tidak muncul dicari. Terutama saat kita membutuhkan matahari.
Saat hanya hujan yang turun sehingga cucian di rumah tidak lagi kering tepat waktu.
Yang terlontar hanyalah,"Mana si matahari ni, cucian gue jadi ga kering kan!" Lagi-lagi salah matahari.
Padahal cuaca menjadi tidak menentu juga salah manusia.
Matahari dijadikan alasan untuk melakukan perilaku buru seperti kemalasan. Matahari jadi kambing hitam.
Betapa sedih saya andai saya jadi matahari. Untung saja tidak. Tapi yang saya tahu matahari jauh lebih kuat dan tahan mental daripada saya.

Jelas.

Siapa diantara kita yang selalu tahan diperlakukan seperti matahari?
Saat manusia memperlakukan matahari seperti itu apakah matahari pernah absen dan lupa tugas untuk menerangi bumi?
Apa matahari pernah benar-benar menghilang saat kamu butuh pakaian yang kering?
Saat hujan pun matahari berusaha ada untuk memberi terangnya walaupun yang terasa sedikit.
Matahari setia. Kita lupa, matahari juga ciptaan Tuhan. Dia dihadirkan dengan maksud dan tujuan.
Biar di hina juga dia tetap ada. Matahari seakan seperti mengadaptasi hukum kasih Tuhan. Karena matahari merupakan salah satu bentuk kasih Tuhan kepada manusia. Bukan hanya lilin yang menerangi ruang lingkup kecil, tapi dunia. Dunia Saudara-saudara!

Jika kita diperlakukan seperti itu, apa kita mampu tetap setia memiliki kasih untuk dunia? Tetap menjadi terang saat kehadiran kita di tolak?
Tetap sabar dan setia saat ada yang membutuhkan?
Mungkin kalau matahari punya blog atau buku harian, wajar buat saya jika isinya tentang kesedihannya.
Tapi dia tidak pernah absen menjalankan tugasnya.
Orang banyak bilang ini hal yang sulit dilakukan.
Hanya tulus dan kasih yang mampu membuat kita bertahan seperti matahari.
Kita jadi terang tidak lagi seperti lilin, tapi matahari.
Mari. Mau?

No comments: