Ketertiadaan
Bahasa apalagi ini?
Tapi masih perlukah meneliti benarnya bahasa jika tidak ada lagi yang mampu mewakili?
Bagaimana angin dan tiupanya bisa sampai ke telinga dan merasuk hingga terdengar bingar?
Lepas lanjut berkelahi lagi dalam bingar yang hanya fatamorgana
Atau bingar yang hanya sementara
Lalu kembali kepada keterasingan hasrat
No comments:
Post a Comment