Tap tap
Lincah bergelora langkahnya mematikan rumput di tanah
Mantap menginjak bumi
Karena dia tahu
Apapun yang terjadi, dia punya tempat untuk kembali
Beruang madu dan rumah pohon kesayangannya
Tidak besar
Tapi lebih dari cukup untuk bersandar
Berlindung dari langit yang kurang cerah
Menutup diri sesaat dari pilunya berkelana
Menyimpan rapi setiap kebenaran yang cukup mematikan rasa
Hingga saatnya
Pohon itu mulai goyah
Atapnya mulai roboh
Setiap dindingnya mulai rebah mengikuti angin yang menentukan
jalan hidup
Lalu
Beruang madu ini kembali hilang arah
Berlama-lama bermain
Tanpa sadar rumah hanya bangunan sementara
Iya, sementara
Rumah pohon itu sementara
Lalu beruang terdiam
Mencari akal sambil membopong hati yang mulai berdarah
Berat
Banyak lupa dan kurang akal
Beruang ini kelu dikhianati
Beruang ini kelu seorang diri
Sulit percaya lagi
Angin ini terasa bukan lagi semilir
Namun mencekam tanpa kenal ramah
Mencari
Mencari
Sampai hari ini
Terus mencari
Dimana kemudian harus menamai tempat barunya
Jadi rumah kembali
Rumah pohon kesayangannya
No comments:
Post a Comment