Barisan lampu tersusun rapi di depan
Tidak lebih dari 5 langkah kaki
Cahayanya ramai
Sibuk bergantian mencari perhatian
Namun satu mata tak tergugah
Memilih asyik sendiri
Larut dalam imaji emosi tanpa tujuan
Menikmati jalan bergantian
Semua pekat terdiam
Tertahan namun berebut lepas bersama jingga sore
Yang mungkin belum sempat terbawa redup malam
Mesin bersaut
Mata dijalan bersambung dengan ingatan
Masa lalu
Masa kemarin
Terpukul tajam
Polahnya mulai rentan
Terkadang diam
Terkadang duduk tak tenang
Membiarkan liar pikirannya berpetualang
Entah kemana
Keluar dari gugus bintang yang seharusnya
Gigihnya hilang bentuk
Dia terlalu pandai berpikir
Lalu kembali tersesah dalam lantunan hujan yang tak sanggup dihabiskan dalam semalam
Berpuasa
Menahan segala
Mengganti semua
Hanya untuk tahan
Dan membuat diri aman
Dari rasa takut kehilangan
Bingung
Tuli
Cekat untuk berkata
Rasanya mahasiswa perlu memperhatikan pengamatan mereka kembali
Akan satu unsur semesta
Seperti mata hatinya
Lalu
Harus kuapakan ini agar berakhir lebih pagi?
No comments:
Post a Comment