Terduduk
pada peraduan surgaku yang tanpa jingga
mengikuti beriak urin yang terasa
sembrono aku pada pagi
keterbatasan ruang dalam gerak berpadu
menyatu namun tidak lagi syahdu
pada naluri yang mulai membeku
ini kran tanpa air
jatuh setitik sebagai perwakilan kubang tak berlahan
aku pasti
langkahku meyakini
nasib dan waktu yang akhirnya mengadili
terperejam dalam emosi satu-satu
dengan sisa detak jam yang tak menentu
itu aku
dan segala keliaran yang tak ada laju
kini aku menunggu
untuk menikah lagi
dengan pagi dan senjaku
di langit tempat mereka berteduh
No comments:
Post a Comment